Minggu, 14 Mei 2017

Bahaya Penyalahgunaan Opiat Selama Masa Kehamilan

Istilah opioid dapat diartikan sebagai narkotik sintetik seperti heroin, meperidine, fentanyl, propoxyphene, dan methadone. Data –data yang tersedia tentang efek opiat terhadap hasil luaran kehamilan sebagian besar karena penggunaan heroin intravena dan methadone oral, yang sejak tahun 1965 digunakan untuk terapi ketergantungan opiat.  Golongan opiat tidak mempunyai efek teratogenik namun berhubungan dengan berat badan lahir rendah karena pertumbuhan janin terhambat dan persalinan prematur, meningkatnya insiden gawat janin, dan kebutuhan untuk perawatan neonatal. Diperkirakan 3 dari 1000 bayi baru lahir adalah korban adiksi opiat, dan setiap tahun ada 7000 bayi baru lahir yang terpapar opiat dalam rahim.

Di Amerika Serikat dengan perawatan antenatal yang komprehensif  dan suportif dapat memperbaiki luaran janin bahkan walaupun pemakaian narkotika terus dilanjutkan selama masa kehamilan, namun yang menjadi masalah adalah kecanduan narkotika tersebut dapat menyulitkan ibu untuk memberikan perawatan yang memadai bagi bayinya. Penelitian jangka panjang menunjukkan bayi yang lahir dari ibu yang mengalami ketergantungan obat mengalami defisit perkembangan kognitif dan tingkah laku.

Penyalahgunaan obat secara intravena akan meningkatkan risiko infeksi secara bermakna, dan lebih dari 12% pemakai atau mantan pemakai  heroin adalah carier hepatitis B selain itu risiko terinfeksi virus HIV  juga meningkat. Efek yang ditimbulkan golongan opiat ini meliputi : penurunan denyut jantung dan frekuensi pernafasan, penurunan laju pencernaan, pupil miosis, pada wanita dalam masa reproduksi dapat menyebabkan amenore. Dalam dosis yang berlebihan dapat menyebabkan koma, kejang sampai henti nafas dan henti jantung.

Tanda dan gejala  putus obat berupa takikardia, hipo atau hipertensi, pernafasan cepat, mual, muntah, rasa kram di perut dan ektremitas, denyutan di otot, menggigil, rhinorea, insomnia, iritabilitas, panik dan anoreksia. Pada wanita hamil putus obat dapat menyebabkan iritabilitas uterus, peningkatan aktivitas janin yang mungkin akan mendahului gejala putus obat yang lain.
cara memutihkan selangkangan

Gejala putus obat pada bayi berupa tangisan dengan nada tinggi, tremor, iritabilitas, tidak mau minum, hipertonus, sering bersin, berkeringat, diare dan kejang, gejala ini dapat muncul 24 – 72 jam setelah lahir, pada ibu yang mendapat terapi methadon maka gejala ini putus obat ini  lebih kurang. Kadang kala gejala putus obat ini baru muncul sampai 10 hari post partum, sehingga perlu untuk memberitahukan ibu mengenai gejala tersebut.

Risiko perinatal sebagai akibat dari pemakaian opiat selama kehamilan berupa abortus, kematian janin dalam rahim, persalinan prematur, pertumbuhan janin terhambat, berat badan lahir rendah, lingkar kepala kecil dan panjang badan lahir yang kurang. Hampir 50% bayi yang lahir dari ibu pemakain heroin mempunyai berat badan kurang dari 2500 gram, dan dilaporkan terjadi peningkatan kasus sindroma kematian bayi mendadak (SIDS).

Methadon diberikan untuk pengobatan kecanduan heroin prenatal. Methadon merupakan opiat sintetik  yang menghambat efek euforik dari heroin dengan demikian akan mengurangi kebutuhan heroin pada saat putus obat. Diberikan secara oral mempunyai masa kerja yang panjang, kadar puncak dalam plasma tercapai dalam 2- 6 jam setelah pemberian dosis pemeliharaan. Dimetabolisme di hepar dan dikeluarkan dari tubuh melalui faeses dan urin. Melewati sawar plasenta dan ditemukan dalam cairan amnion, darah tali pusat, dan urin bayi, dapat dimetabolisme oleh plasenta dan tubuh janin. Dosis pada pemakai heroin ringan, 10 – 20mg/hari, pemakai sedang, 40 – 50 mg dan pemakai berat memerlukan dosis lebih dari 80 mg /hari.2
memutihkan kulit untuk remaja
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Monggo komentar kritik, saran di kolom dibawah ini atau hanya sekedar titip salam ke pacar juga boleh ... :D

Terus jadikan blog footherbal menjadi blog terbaik buat mencari ilmu kesehatan, kehamilan, gaya hidup, kecantikan dan lain sebagainya ... :)