Rabu, 12 April 2017

Adopsi Anak Bukan Solusi Tepat Untuk Pancing Kehamilan

Setiap pasangan yang sudah menikah, pasti memiliki keinginan untuk menghadirkan buah hati sebagai pelengkapnya. Memiliki buah hati akan menambah keharmonisan pasangan suami istri dan menjadi tempat menumpahkan kasih sayang berdua. Kehadiran buah hati akan menambah kebahagiaan bukan hanya untuk berdua saja namun juga semua keluarga.

Ketika pernikahan sudah mencapai usia satu tahun atau bahkan lebih, dan anak belum juga hadir, maka kecemasan pun tidak bisa dihadirkan. Keluarga pun tidak sedikit yang akhirnya memberikan tekanan dan membuat hal ini sebagai masalah besar bagi Anda, pasangan wanita khususnya. Masalah ini membuat para pasangan suami istri tanpa pikir panjang terkadang memilih cara memancing anak yang banyak dilakukan yaitu adopsi.

Namun, tahukah Anda bahwa adopsi ini ternyata merupakan suatu cara yang salah apabila digunakan sebagai pancingan. Melakukan adopsi terhadap seorang anak ataupun bayi orang lain, tidak akan memberikan pengaruh yang baik pada siklus hormonal.

Untuk itu, adopsi memang tidak ada hubungannya dengan kehamilan. Tujuan dari melakukan adopsi atau mengangkat anak pun sebetulnya bukanlah pancingan melainkan melengkapi kebahagian dengan hadirnya anak tersebut walaupun tidak ada ikatan biologis. Dalam adopsi yang dikedepankan adalah hubungan batin.

Jadi, jika adopsi bertujuan sebagai pancingan maka akan terjadi masalah terhadap kondisi batin anak yang diadopsi suatu saat nanti. Secara psikologis ia akan merasa hanya sebagai anak angkat dan hanya diangkat sebagai pencingan untuk kelahiran anak Anda berdua saja.

Sangat tidak dianjurkan untuk melakukan adopsi sebagai tujuan yang akan menimbulkan pengaruh tersebut. Secara lingkungan pun jika adopsinya memiliki tujuan tersebut, sudah pasti keluarga akan membedakan kasih sayangnya apalagi ketika suatu saat Anda telah hamil dan memiliki bayi kandung sendiri.

Memiliki anak bukan hanya saja masalah antara pasangan suami istri, melainkan juga ada hubungannya dengan Tuhan. Di samping itu, perlu diingat juga bahwa setiap orang mempunyai waktu yang berbeda-beda untuk dikaruniai anak tersebut.

Tekanan lingkungan keluarga dalam hal belum dikarunianya anak ini akan sangat berpengaruh bagi ketenangan dan kenyamanan pasangan wanita. Padahal, tekanan tersebutlah yang akhirnya berdampak pada psikologis yang kemudian memicu terjadinya stress tingkat tinggi. Stress tersebut berdampak pada ovulasi yang akan terganggu.

Bagi Anda, para pasangan yang tetap memaksa ingin melakukan adopsi sebagai pancingan, lebih baik memikirkannya lagi dengan matang. Anak yang akan diadopsi sudah pasti sebelumnya telah diharapkan untuk sesuai harapan khususnya ketika ia besar nanti. Namun, pada kenyataannya itu bisa saja tidak terjadi.

Jadi, memikirkan baik-baik dan merubah cara pandang tentang tujuan adopsi harus dilakukan. Latar belakang yang menjadi tujuan adopsi akan lebih penting dibandingkan niat kebaikannya saja. Jangan sampai ketika Anda akhirnya diberi karunia kehamilan, kasih sayang pada anak yang telah diadopsi jadi berbeda atau mungkin bisa jadi berkurang.

Kondisi psikologis anak nantinya akan terganggu, sehingga selain dibutuhkan tujuan yang baik untuk mengadopsi anak, siapkan juga cara dalam memberi perhatiannya. Termasuk ketika suatu hari harus hadir sodaranya, yaitu dengan kehamilan yang terjadi, dia bisa mengerti dan saling menerima.
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Monggo komentar kritik, saran di kolom dibawah ini atau hanya sekedar titip salam ke pacar juga boleh ... :D

Terus jadikan blog footherbal menjadi blog terbaik buat mencari ilmu kesehatan, kehamilan, gaya hidup, kecantikan dan lain sebagainya ... :)