Minggu, 06 Agustus 2017

Mencegah Janin Agar Tidak Meninggal di Dalam Kandungan

Mencegah Janin Agar Tidak Meninggal di Dalam Kandungan
Mencegah Janin Agar Tidak Meninggal di Dalam Kandungan
Setiap kehamilan memiliki resikonya tersendiri salah satunya adalah meninggalnya bayi dalam kandungan. Kejadian meninggalnya bayi dalam kandungan dikenal dengan nama Intra Uterin Fetal Death (IUFD) yang sering terjadi saat usia kehamilan berada pada masa trisemester kedua.

Hal ini berbeda dengan kondisi keguguran yang terjadi pada masa trisemester pertama. Kejadian seperti ini bisa disebabkan oleh berbagai hal namun yang sering terjadi adalah karena kondisi imun sang ibu yang menurun dan pada akhirnya mengganggu pembentukan organ janin dalam kandungan yang menyebabkan sang bayi meninggal dunia. Hal yang sama juga bisa terjadi karena adanya kelainan bawaan atau bisa juga karena ketidak cocokan darah antara sang ibu dan janin.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari atau mengurangi resiko meninggalnya bayi dalam kandungan, yaitu:
  • Menghindari pola hidup tidak sehat. Ada beberapa pola hidup tidak sehat seperti merokok dan juga mengkonsumsi alkohol yang perlu dihindari pada masa kehamilan. Kedua kebiasaan ini memiliki banyak dampak negatif selain meninggalnya bayi dalam kandungan yaitu adanya komplikasi berat pada kehamilan itu sendiri atau bisa juga menyebabkan kelainan pada bayi dalam kandungan.
  • Menjaga kesehatan. Pada masa kehamilan, kondisi kesehatan sang ibu akan jauh lebih rentan terhadap berbagai serangan penyakit. Oleh karena itu, sang ibu hamil wajib menjaga kesehatan mereka dengan cara selalu menjaga kebersihan sekitar dan juga makanan yang dikonsumsi, melakukan olahraga ringan secara teratur dan juga dengan mendapatkan beberapa jenis imunisasi kehamilan. Dengan begini , bukan hanya kesehatan sang ibu yang akan terjaga namun juga bayi yang ada di dalam kandungan.
  • Istirahat yang cukup. Salah satu persyaratan agar bisa hidup sehat adalah dengan mendapatka istirahat yang cukup setiap harinya. Hal ini berlaku untuk semua orang terutama untuk para ibu hamil. Istirahat atau tidur yang cukup setiap harinya akan memberikan kesempatan bagi tubuh untuk memperbaiki sel-sel yang rusak dan juga memberi kesempatan untuk melawan berbagai penyakit yang mungkin menyerang. Mendapatkan istirahat yang cukup juga sangat dianjurkan untuk mereka yang memiliki resiko atau riwayat keguguran.
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh sebelum kehamilan. Sangat disarankan bagi setiap pasangan yang merencanakan untuk memiliki momongan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Bagi sang ibu hamil, pemeriksaan yang dilakukan bisa berputar pada riwayat kesehatannya. Bagi mereka yang memiliki gangguan kesehatan misalnya saja tekanan darah tinggi atau hipertensi, maka perlu memperhatikan pola makan agar tidak berujung pada preeklampsia atau keracunan kehamilan. Dengan melakukan pemeriksaan kesehatan seperti ini, resiko terjadinya komplikasi kehamilan atau meninggalnya bayi bisa dicegah sejak dini.
  • Pemeriksaan lebih lanjut sebelum merencanakan kehamilan selanjutnya. Langkah yang satu ini terutama perlu diambil oleh mereka yang pernah mengalami keguguran atau meninggalnya bayi dalam kandungan pada kehamilan sebelumnya. Pada beberapa kasus, otopsi perlu dilakukan untuk mencari tahu dengan pasti apa yang menjadi penyebab meninggalnya bayi tersebut. Dengan begitu sang ibu hamil dapat mempersiapkan kehamilan selanjutnya dengan lebih waspada dan bila memang dibutuhkan dapat dilakukan perawatan yang sesuai kebutuhan.
Kejadian meninggalnya bayi dalam kandungan dapat terjadi pada siapa saja. Namun dengan pemeriksaan yang teratur serta dengan selalu menjaga kondisi kesehatan bayi dan sang ibu, maka resiko meninggalnya sang bayi dapat diminimalisir atau dihindari sama sekali hingga sang bayi dapat lahir dengan selamat.
Continue reading

Rabu, 19 April 2017

Waspadai Janin yang Tidak Berkembang

Kehamilan merupakan anugerah bagi seorang wanita yang sudah menikah. Banyak pasangan muda yang memutuskan untuk segera merencanakan program kehamilan agar mereka segera memiliki momongan.

Namun, terkadang waktu yang dibutuhkan untuk menanti kehadiran buah hati bisa lebih lama dari yang lain. Pasangan suami istri harus bersabar dan berusaha lebih baik lagi agar mendapatkan kesempatan menjadi orang tua.

Bagi pasangan suami istri yang ingin memiliki anak, sebaiknya mengikuti program perencanaan kehamilan. Keduanya perlu melakukan konsultasi dengan dokter kandungan untuk mengetahui kondisi kesehatan masing-masing dan kemungkinan si istri bisa hamil.

Selain itu, calon ayah dan ibu juga perlu membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang cukup, apalagi untuk kehamilan pertama yang sama sekali belum ada bekal pengalaman. Salah satunya adalah pengetahuan bagaimana menjaga kondisi kesehatan ibu hamil dan janinnya.

Ibu harus melakukan pemeriksaan rutin untuk mengetahui perkembangan janin yang ada di rahimnya. Pemeriksaan dilakukan mulai dari awal kehamilan sampai menjelang persalinan. Tujuannya untuk memonitor denyut jantung janin atau apakah janin berkembang atau tidak.

Pernahkah Anda mendengar masalah kehamilan dimana janin yang tidak berkembang? Seperti yang bisa diketahui dari nama masalah tersebut dimana memang janin yang ada di dalam rahim ternyata tidak berkembang. Ada kasus dimana kantung kehamilan terbentuk yang terdeteksi saat pemeriksaan kehamilan yang memasuki usia 5 minggu.

Namun, pada pemeriksaan minggu ke 10, ternyata didapati bahwa janin tidak berkembang dan denyut jantungnya berhenti. Itu artinya janin tidak tumbuh dan berkembang layaknya pada kehamilan normal. Kondisi ini biasanya bisa terdeteksi sebelum usia kandungan tiga bulan. Bagaimana dengan kehamilan Anda? Apakah calon buah hati berkembang dengan baik?

Ada dua macam kondisi dimana janin tidak berkembang. Berikut penjelasannya:
  1. Terlihat bayangan gambaran janin seperti gambaran berupa pipih dan kecil di dalam rahim. Apabila diameter dan panjangnya tidak sesuai dengan usia kehamilan, maka bisa dinyatakan bahwa janin didalam kandungan tersebut tidak berkembang.
  2. Kemungkinan kondisi janin yang tidak mengalami perkembangan lainnya adalah janin yang tidak tampak, biasa dikaitkan dengan bligthed ovum atau rahim kosong. Pada kondisi ini, yang terlihat saat pemeriksaan adalah gambaran yang hitam dan berisi cairan yang tidak bayangan kehadiran janin sama sekali.
Walaupun ukuran perut yang membesar merupakan pertanda paling umum bahwa seorang wanita akan menjadi ibu, namun untuk mengetahui keberadaan dan kondisi janin di dalam rahimnya, diperlukan pemeriksaan lebih mendalam. Apalagi kalau bukan pemeriksaan menggunakan alat USG atau Ultrasonografi. Hal ini merupakan prosedur wajib saat memeriksakan kandungan.

Pemeriksaan yang dilakukan pada trimester awal dapat mencegah terjadinya resiko janin tidak mengalami perkembangan. Terkadang kondisi ini ditemukan pada usia kehamilan yang sudah mencapai empat atau lima bulan. Kemungkinan besar si ibu sendiri tidak menyadari hal ini, sehingga pemeriksaan melalui USG adalah cara yang paling tepat untuk mendeteksi adanya masalah pada perkembangan janin.

Akan tetapi, ibu hamil bisa mencoba mengenali kondisi tersebut dengan mengamati ciri-cirinya, seperti:
  1. Morning sickness yang tidak muncul kembali. Normalnya, ibu hamil mengalami mual dan muntah saat mengandung. Berhentinya gejala morning sickness bisa menjadi pertanda awal bahwa janin yang ada di dalam rahim tidak berkembang, walaupun banyak ibu hamil yang kondisi kehamilannya normal juga tidak selalu mua dan muntah. Tapi, cara yang paling tepat untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya adalah melalui pemeriksaan dengan USG.
  2. Ibu tidak merasakan gerakan janinnya. Biasanya masalah kehamilan dimana janin tidak berkembang terjadi pada trimester pertama. Tetapi adapula yang mengalaminya di trimester kedua dan ketiga. Salah satu cara untuk mendeteksi kemungkinan tersebut adalah dengan merasakan gerakan janin. Itulah mengapa pemeriksaan USG harus rutin dilakukan mulai dari awal kehamilan.
  3. Munculnya darah atau flek juga bisa menjadi ciri dari adanya janin yang tidak berkembang. Perkembangan yang gagal dari janin tersebut dapat memicu keguguran. Akan tetapi, seorang ibu hamil harus bisa membedakan darah yang keluar pada kehamilan normal dan yang dikarenakan gagalnya janin berkembang.
Munculnya darah yang berhenti dalam waktu 24 jam biasanya tidak memicu masalah, sebaliknya apabila darah justru semakin banyak keluar, ibu hamil harus segera mendapatkan pertolongan medis.

Kehamilan dengan kondisi janin yang tidak berkembang bukannya tidak mungkin untuk dicegah. Hal yang bisa ibu hamil atau wanita yang ingin segera hamil adalah mengenali penyebab mengapa janin tidak bisa berkembang dengan normal di dalam kandungan. Waspadailah beberapa hal berikut karena bisa menjadi penyebab dari terjadinya janin yang tidak berkembang:
  1. Saat merencanakan kehamilan, biasanya calon ibu diharuskan untuk menjalani vaksinasi agar terhindar dari infeksi Torch. Infeksi oleh mikroorganisme seperti Rubella,Cito Megalo Virus (CMV) atau Toksoplasma serta herpes simplex I dan simplek II yang menyerang sistem imun tubuh dapat menyebabkan janin tidak berkembang.

    Untuk mengetahui resiko terjadinya infeksi, seorang calon ibu harus memeriksakan diri sebelum menjalanin rencana kehamilan. Apabila memang sudah terdeteksi ada infeksi ketika sedang hamil, maka tindakan yang dilakukan adalah terapi selama kehamilan atau mengkonsumsi obat yang diresepkan oleh dokter.
     
  2. Faktor genetik juga dapat berpengaruh pada proses perkembangan janin. Pada kondisi bligthed ovum misalnya, bisa disebabkan oleh faktor kualitas sperma atau sel telur yang tidak baik. Bligthed ovum bisa terjadi berulang-ulang apabila kualitas dan kuantitas baik sperma maupun sel telur tidak diperbaiki.

    Penyebab dari masalah utama tersebut juga bisa beragam. Sedangkan gangguannya bisa terjadi sejak kelahiran sehingga akan sulit dilakukan pencegahan.
     
  3. Pertumbuhan janin bisa terhenti karena terjadinya Anticardiolipin (ACA) atau penyumbatan pembuluh darah yang menyebabkan pembekuan sehingga janin tidak berkembang. Penyebab dari ACA sendiri tergantung pada sistem kekebalan tubuh. Kehamilan merupakan musuh dari ACA, sehingga daerah yang mengalami penyumbatan dapat mengarah ke janin.

    Oleh sebab itu, janin tidak mendapatkan suplai makanan, minuman serta oksigen secara langsung. Deteksi awal sangat penting untuk menentukan keberadaan ACA sehingga calon ibu bisa terlebih dahulu mendapatkan perawatan berupa terapi atau pemberian obat anti pembekuan darah sehingga kondisinya menjadi normal kembali. Setelah kondisi menjadi stabil, diperlukan pengawasan yang ketat dan terapi hingga menjelang persalinan.

Calon ibu harus merelakan janin yang tidak berkembang di dalam rahimnya. Itu artinya diperlukan penanganan medis karena calon bayi tersebut tidak dapat dipertahankan. Prosedur yang paling umum untuk dilakukan adalah kuret.

Namun, dalam beberapa kasus, usia kehamilan dibiarkan sampai memasuki minggu ke-8 untuk memastikan kondisi janin yang sebenarnya. Untuk mencegah hal tersebut, tentunya pasangan suami istri harus menjalani pemeriksaan sebelum merencanakan kehamilan, dimana calon ibu juga akan diberikan imun pada tubuhnya untuk menunjang perkembangan dan pertumbuhan janin.

Apabila masalah janin tidak berkembang sudah pernah dialami sebelumnya, maka diharuskan untuk berkonsultasi dengan dokter dan menjalani terapi untuk menghindari masalah yang sama.
Continue reading